Pertanyaan yang paling sering masuk ke DM kami bukan soal harga atau tema. Yang paling sering: boleh nggak datang sendiri. Jawabannya boleh, dan sebenarnya itu yang paling sering terjadi.
Datang sendiri itu normal, dan di Jogja lebih normal lagi
Jogja punya kebiasaan yang jarang disadari orang yang baru pindah ke sini: banyak tempat dirancang untuk orang yang datang sendiri. Kafe yang mejanya kecil-kecil, perpustakaan yang buka sampai malam, pameran kecil di ruang yang bahkan nggak punya papan nama. Nggak ada yang nanya kamu sama siapa.
Yang bikin canggung biasanya bukan tempatnya, tapi bayangan di kepala soal orang lain memperhatikan. Padahal di ruangan yang isinya orang sibuk sama urusannya masing-masing, kamu jauh lebih nggak kelihatan dari yang kamu kira.
Jadi pertanyaannya bukan berani atau nggak. Pertanyaannya kegiatan mana yang memang enak dijalani sendirian, dan mana yang memang butuh teman.
Yang enak sendirian, dan yang bikin kikuk
Polanya lumayan konsisten. Kegiatan yang punya kegiatan utama jelas enak dilakukan sendiri, karena tangan dan matamu punya tujuan. Kegiatan yang isinya cuma duduk dan mengobrol jadi berat kalau kamu nggak bawa lawan bicara.
Enak sendirian. Nonton film di bioskop, jalan pagi keliling kampung, keliling toko buku bekas, sesi yoga atau kelas keterampilan, dan apa pun yang ada instruktur atau pemandunya. Semuanya punya satu kesamaan: ada yang kamu kerjakan, jadi nggak ada jeda kosong yang bikin kamu mikirin diri sendiri.
Gampang bikin kikuk. Makan di restoran yang mejanya buat empat orang, nongkrong di tempat yang formatnya ngobrol bareng, acara yang pesertanya datang berkelompok dan sudah saling kenal. Bukan nggak bisa, cuma butuh tenaga lebih.
Kalau kamu lagi cari kegiatan pertama untuk dicoba sendirian, ambil yang dari kelompok pertama. Menang di percobaan pertama itu penting, karena yang menentukan kamu ngulang lagi atau nggak.
Satu hal lagi yang menolong: pilih kegiatan yang punya titik selesai jelas. Film ada durasinya, kelas ada jam berakhirnya, sesi ada penutupnya. Kegiatan yang nggak jelas kapan bubarnya bikin orang yang datang sendiri terus mikir kapan boleh pamit, dan itu melelahkan dengan cara yang aneh.
Kenapa kegiatan berpandu lebih nyaman untuk yang datang sendiri
Ada satu hal yang sering dilewatkan: kegiatan berpandu menghapus keputusan-keputusan kecil yang justru paling bikin capek waktu datang sendirian.
Duduk di mana. Mulai kapan. Ngapain kalau lagi nggak ada yang dikerjakan. Boleh nggak pulang duluan. Waktu ada yang memandu, semua pertanyaan itu sudah dijawab sebelum kamu masuk pintu.
Ada juga hal yang lebih pelan: di kegiatan berpandu, semua orang mulai dari titik yang sama. Kamu bukan orang asing yang menyusup ke kelompok yang sudah akrab. Semua sama-sama baru masuk dan sama-sama nunggu instruksi pertama.
Yang bikin nyaman bukan ramainya, tapi jelasnya.
Ini juga alasan kenapa datang sendiri ke kegiatan berpandu sering lebih ringan daripada datang berdua ke tempat nongkrong. Kalau bareng teman, kamu masih punya pekerjaan sampingan menjaga obrolan tetap jalan. Sendirian di ruangan yang sudah punya susunan acara, pekerjaan itu nggak ada.
Apa yang biasanya terjadi kalau datang sendiri ke sesi journaling
Sesi journaling kebetulan jatuh persis di kelompok yang enak dijalani sendirian. Ada yang dikerjakan, ada yang memandu, dan format kegiatannya memang menulis, yang artinya diam itu bagian dari acaranya.
Yang biasanya terjadi di sesi kami kira-kira begini. Kamu datang, alat tulisnya sudah di meja, dan kamu nggak perlu bawa apa-apa selain diri sendiri. Bagian pertama isinya duduk dan tenang dulu: ambil minum, lihat-lihat isi kit, kenalan seperlunya. Nggak ada perkenalan wajib satu per satu, jadi kalau kamu lagi nggak pengin bicara, itu sudah beres sejak awal. Habis itu pemantiknya dibacakan sesuai tema hari itu, dan ruangannya jadi sepi karena semua orang nulis.
Bagian yang paling sering bikin lega peserta baru: nggak ada kewajiban membacakan tulisanmu. Halaman jurnal itu punya kamu. Yang mau berbagi bacaan silakan, yang nggak juga aman. Nggak ada tulisan yang dinilai di sini.
Bagian terakhirnya menghias dan menutup. Deco station dibuka, dan di situ biasanya orang mulai ngobrol tanpa niat ngobrol. Nempel stiker sambil komentar soal washi tape itu jauh lebih gampang daripada mengenalkan diri di lingkaran perkenalan. Kalau kamu memang datang buat sendirian, itu juga nggak masalah, dan nggak ada yang bakal maksa.
Gambaran lebih lengkap soal cara satu sesi TJR berjalan ada di halaman Tentang, termasuk kenapa kami pindah venue tiap sesi.
Cara menyiapkan diri sebelum datang
Nggak banyak yang perlu disiapkan, tapi empat hal ini bikin sesi pertama terasa lebih ringan.
Datang sepuluh menit lebih awal. Masuk ke ruangan yang masih sepi jauh lebih enak daripada masuk waktu semua orang sudah duduk. Kamu sempat milih tempat, dan kamu bukan yang terakhir datang.
Nggak usah nyiapin perkenalan. Ini yang paling sering bikin orang gugup sebelum berangkat, dan di sesi kami memang nggak ada perkenalan wajib satu per satu. Kalau kamu mau kenalan, kenalan. Kalau nggak, nggak ada yang menagih.
Turunkan targetnya sebelum berangkat. Kamu nggak harus pulang dengan pencerahan. Nulis dua paragraf dan ketemu satu orang baru itu sudah sesi yang berhasil.
Kalau belum pernah journaling sama sekali, baca sebentar sebelumnya. Bukan buat belajar, cuma biar halaman pertama nggak terasa asing. Cara mulai journaling untuk pemula cukup buat itu.
Kalau bisa, pilih sesi yang temanya kamu suka. Bukan yang kedengarannya paling penting. Tema yang bikin kamu penasaran bikin kamu lebih gampang nulis, dan sesi pertama yang lancar bikin kamu mau balik lagi.
Sisanya nggak perlu dipikirkan. Datang sendiri ke sesi journaling itu bukan hal yang perlu dijelaskan ke siapa pun, dan di ruangan itu kamu bakal ketemu beberapa orang lain yang mengambil keputusan yang persis sama.
Kalau mau mulai dari sesi terdekat, cek jadwal sesi journaling di Jogja.
